Mengenal Electroconvulsive Therapy

Dhea Asri Maria

Mahasiswa RPL 2024

Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Elektromedis

Poltekkes Kemenkes Jakarta II 


Apa aitu ECT?

 

Electroconvulsive Therapy atau ECT adalah tindakan medis yang efektif pada pasien dengan depresi berat, depresi dengan resistensi terapi, katatonia, atau episode manik yang resisten obat. Mekanisme ECT belum diketahui secara pasti. Namun, pemberian arus listrik lemah pada otak dipercaya dapat mempengaruhi komponen sistem saraf pusat, termasuk hormon, neuropeptida, faktor neurotropik dan neurotransmitter dan memberikan efek terapeutik pada pasien diatas.

 

Electroconvulsive therapy (ECT) pertama kali diperkenalkan oleh Bini dan Cerletti pada tahun 1938. Mereka menggunakan arus listrik untuk menginduksi kejang sebagai terapi untuk skizofrenia. Stimulasi kejang dilakukan dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan tepat di atas lobus temporal.


Tidak ada kontraindikasi absolut untuk ECT, namun ada beberapa kontraindikasi relatif yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan ECT. Telaah sistemik menunjukkan bahwa ECT lebih efektif dari farmakoterapi.

ECT dilakukan dengan menempatkan elektroda bilateral di atas lobus temporalis pada pasien yang berbaring terlentang tanpa bantal. Stimulus listrik diberikan setelah dilakukan tindakan anestesi. Target stimulus adalah kejang dengan durasi 15120 detik. Selama kejang, dilakukan monitoring tanda vital, EKG, dan EEG.

ECT dapat menimbulkan komplikasi sistem saraf pusat maupun komplikasi fisik. Kejang pasca ECT yang melebihi 120 detik disebut kejang yang berkepanjangan (prolonged), sehingga pengerjaan ECT membutuhkan monitoring. ECT bisa menimbulkan efek samping fisik dan neurologis. Namun umumnya efek samping yang timbul berjangka pendek dan tidak membutuhkan intervensi.

 

Indikasi ECT

 

Electroconvulsive therapy atau ECT diindikasikan pada pasien dewasa dengan katatonia, depresi berat, skizofrenia dan bipolar affective disorder (BPAD). ECT juga bisa dilakukan pada kondisi-kondisi dimana obat psikotropika tidak bisa diberikan, misalnya depresi pada kehamilan.

Indikasi Electroconvulsive therapy atau ECT antara lain:

  • Depresi berat yang mengancam nyawa pasien (dengan risiko tinggi untuk bunuh diri dan/atau intake nutrisi dan cairan yang buruk)
  • Depresi yang resisten terhadap terapi (tidak berespon dengan terapi 2 obat antidepresan dengan dosis dan durasi yang optimal) atau kondisi dimana pilihan terapi terbatas karena efek samping obat yang berat
  • Katatonia akut (dimana pemberian benzodiazepine intramuskular seperti diazepaminjeksi dan antipsikotik gagal untuk menimbulkan perbaikan)
  • BPAD episode manik yang gagal ditangani dengan farmakoterapi atau dibatasi oleh efek samping yang berat
  • Indikasi relatif pada pasien yang sebelumnya berespon dengan baik terhadap ECT atau mereka yang hanya berespon terhadap ECT.
  •  

Pertimbangan Pemberian ECT

Walaupun terdapat indikasi untuk dilakukan ECT, tetapi pemberiannya tetap harus mempertimbangkan:

  • Keinginan pasien dan/atau keluarga
  • Riwayat penyakit dan respon terhadap terapi
  • Derajat penderitaan yang dialami pasien
  • Kebutuhan untuk respon terapi yang cepat, misalnya risiko bunuh diri

Risk and benefits dari ECT dibandingkan dengan modalitas terapi lainnya

 

Prinsip kerja alat ECT

 

Alat Electroconvulsive Therapy (ECT) bekerja dengan menghasilkan arus listrik yang digunakan untuk menstimulasi otak pasien dan menginduksi kejang yang terkontrol. Prosedur dimulai dengan memberikan anestesi umum dan relaksan otot kepada pasien untuk membuat mereka tidak sadar dan mencegah gerakan fisik yang berlebihan selama prosedur. Setelah itu, elektroda ditempatkan di kulit kepala, baik secara bilateral (kedua sisi kepala) atau unilateral (satu sisi kepala). Dokter kemudian mengatur alat ECT untuk memberikan dosis arus listrik yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Alat ECT mengirimkan arus listrik kecil (sekitar 70-120 volt) melalui elektroda ke otak selama beberapa detik, biasanya sekitar 0.5-8 detik. Arus listrik ini menstimulasi otak dan menyebabkan kejang yang terkontrol dan berlangsung sekitar 30-60 detik. Setelah kejang berhenti, pasien dibawa ke ruang pemulihan dan diawasi hingga efek anestesi hilang dan mereka sadar kembali. Efek samping sementara seperti kebingungan, sakit kepala, atau nyeri otot dapat terjadi, tetapi pasien biasanya diawasi hingga kondisi stabil dan tanda-tanda vital kembali normal. Alat ECT terdiri dari generator arus listrik, elektroda untuk menyalurkan arus listrik ke otak, monitor untuk mengawasi aktivitas otak (EEG) dan tanda vital, serta pengontrol untuk mengatur durasi dan intensitas arus listrik. Mekanisme terapeutik ECT melibatkan perubahan pada neurotransmitter otak, peningkatan neuroplastisitas, dan pengaturan ulang pola aktivitas dalam jaringan otak, yang semuanya berperan dalam mengurangi gejala gangguan mental seperti depresi berat, bipolar, dan skizofrenia

 


Risiko Efek Samping

·      Sakit kepala

Anda mungkin mengalami sakit kepala. Ini mungkin disebabkan oleh anestesi, perawatan ECT, atau tidak makan atau minum apa pun dalam waktu lama.

·      Kekakuan otot

Anda mungkin mengalami kekakuan otot akibat obat yang diberikan kepada Anda selama perawatan untuk merelaksasikan otot-otot Anda.

·      Mual

Anda mungkin mengalami mual akibat anestesi atau karena tidak makan dan minum dalam waktu lama.

·      Kebingungan

Anda mungkin merasa bingung setelah perawatan anestesi dan ECT. Sebaiknya Anda beristirahat selama 24 jam ke depan dan ditemani seseorang selama waktu tersebut. Kebingungan yang disebabkan oleh anestesi dan ECT tidak berlangsung lama.

·      Kehilangan memori

Anda mungkin mengalami beberapa masalah dengan kehilangan memori. Hal ini dapat berlangsung antara beberapa minggu dan beberapa bulan. Hindari membuat keputusan besar saat Anda menjalani perawatan ECT.

Teknik ECT yang lebih baik dan pedoman yang jelas untuk penggunaan ECT telah mengurangi risiko dan tingkat keparahan efek samping memori.

 

 

Referensi :

https://www.alomedika.com/tindakan-medis/psikiatri/electroconvulsive-therapy

https://www.wfsahq.org/documents/306%20Anaesthesia%20for%20Electro-convulsive%20Therapy%20ECT.pdf

https://www.kompasiana.com/ariatanjungsuriakusumah8535/66688867c925c47be8136ab5/mengenal-ect-electroconvulsive-therapy-unit?page=all&page_images=1

https://www.camh.ca/en/health-info/mental-illness-and-addiction-index/electroconvulsive-therapy

Comments

  1. Kerennnn kak, terima kasih informasinyaa kak👍🏻

    ReplyDelete
  2. Good job, mantab...informasi yg sangat bagus👌👌👌👌

    ReplyDelete
  3. lebih bagus mana dibandingkan dengan tms untuk treatment pasien depresi?

    ReplyDelete
  4. Penjelasan yang sangat lengkap, terima kasih

    ReplyDelete
  5. Sangat bermanfaat dan menarik sekali

    ReplyDelete
  6. informartif dan keren artikelnya kak

    ReplyDelete
  7. Sangat bermanfaat sekali,, sering2 bagi informasi tentang alat 2 elektromedik yang lainnya

    ReplyDelete
  8. sangat informatifff

    ReplyDelete
  9. artikelnya sangat keren 👍🏻

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terapi Wicara: Membuka Jalan Komunikasi yang Lebih Baik